Untitled [cerpen]
Tutup matamu, Sayang
Tutup matamu, bernafaslah dengan tenang
Tutup matamu, rasakan warna langit berubah menuju petang
Rasakan dinginnya angin, yang membuat bulu kuduk meremang
Pada saat itu, apakah kau mulai melihat bintang-bintang?
Mereka bintik kecil bercahaya, mirip seperti kunang-kunang
Yang bertebaran di udara tanah lapang
Hadir untuk menemanimu seorang
Tutup matamu, kini kau mulai melayang
Dibawa entah angin atau bintang
Menuju kebebasan yang tak terbayang
Di sini, aku menunggumu datang
Di padang ilalang bertabur bintang dan kunang-kunang
Dalam kedamaian yang lengang
…
“Sinta!”
Suara teriakan itu mengagetkan Sinta. Kepalanya menoleh ke arah asal suara. Di belakangnya, berdiri seorang perempuan muda dengan rambut ikal panjangnya yang cantik. Perempuan itu mengenakan gaun hijau muda sepanjang lutut dan kaos kaki berwarna putih setinggi lutut. Sebuah tali dari tas selempang kecil melintangi tubuhnya dari pundak kanan sampai ke pinggang kiri. Ia tersenyum kepada Sinta. Senyumnya menimbulkan lesung pipi yang cukup dalam di kedua pipinya.
Sinta balas tersenyum kepada gadis cantik itu. Ia berlari ke arah Si Gadis sambil setengah tertawa. Ia hampir berhasil menangkap gadis bergaun hijau muda itu ketika Si Gadis ternyata berbalik dan berlari menjauhi Sinta sambil tertawa jahil.
“Hei!” seru Sinta, masih sambil mengejar gadis bergaun hijau muda. “Kamu mau ke mana?”
Si gadis tidak menjawab. Ia terus berlari di tengah padang rumput yang luas dengan Sinta yang masih mengejar di belakangnya. Mereka berlari menuju ke arah bukit di tengah padang itu. Si gadis bergaun hijau muda mulai mendaki lereng bukit itu dengan langkah ringan, sedangkan Sinta menghentikan larinya dan terengah-engah di kaki bukit. Ia mendongakkan kepalanya ke atas. Gadis itu sudah sampai di puncak bukit.
Ketika Sinta sedang berusaha mengatur nafasnya, gadis itu berbalik dan memandangi Sinta dari atas bukit. “Ayo!” pekiknya dari puncak bukit. Kemudian, sosoknya menghilang ke balik bukit.
Sinta mengangkat roknya lebih tinggi dan mendaki bukit itu selangkah demi selangkah. Matanya memperhatikan ke arah ujung sepatunya setiap kali melangkah, setengah takut tergelincir oleh rumput yang basah. Beberapa langkah kemudian, dirinya telah sampai di puncak bukit. Pandangannya beralih dari ujung sepatu ke pemandangan di bawah bukit.
Di balik bukit itu terhampar sebuah padang rumput yang sangat luas, dengan tebing-tebing tinggi yang melatar belakanginya. Tebing-tebing itu tampak seperti dinding kokoh berwarna hitam yang melingkupi seluruh padang rumput. Di tengah-tengah padang itu, tidak jauh dari kaki bukit, beberapa gadis sedang berkumpul dan mendirikan tenda. Si gadis bergaun hijau muda juga ada di sana, ia sedang menambahkan kayu bakar ke dalam api unggun yang telah dinyalakan sebelumnya. Cahaya dari api unggun itu terlihat bagai cahaya lilin jika dilihat dari atas bukit. Cahaya sekecil itu tidak akan cukup menerangi perkemahan mereka, pikir Sinta. Namun, malam itu, seluruh padang rumput nampak terang, seolah-olah ada lampu neon raksasa yang dipasang di langit untuk meneranginya. Ya, lampu neon itu adalah cahaya dari bulan dan bintang.
“Woy, bantuin sini!” teriak seseorang dari bawah bukit. Sinta agak terkejut mendengarnya, ia bergegas menuruni bukit dan bergabung dengan para pekemah di bawah.
Perkemahan kecil itu memiliki tiga tenda yang ujungnya runcing dan semuanya berwarna krem, mirip seperti tenda milik suku Indian. Di dalam masing-masing tenda dipasangi fairy lights yang cahayanya berwarna jingga lembut. Sinta dapat melihat bayangan dari para pekemah yang sedang menata bagian dalam tenda. Ia memperhatikan bahwa semua pekemah di tempat itu adalah gadis seusia dirinya. Di tengah-tengah perkemahan itu terdapat sebuah api unggun kecil yang dikelilingi oleh enam dingklik plastik yang dapat dilipat. Salah satu dingklik itu diduduki oleh Si-Gadis-Bergaun-Hijau-Muda tadi yang sekarang tengah sibuk menyodok-nyodok api agar membesar. Sinta mengedarkan pandangannya ke seluruh perkemahan itu dengan takjub, mulutnya melongo.
Seorang gadis berambut pendek dengan setelan baju tidur berwarna biru muda keluar dari salah satu tenda. Kedua tangannya memeluk kotak-kotak plastik bening berisi bahan makanan: sosis, marshmallow, biskuit, daging, dan setumpuk selada air yang sudah dipotong-potong. Gadis itu terkejut melihat Sinta, namun pada detik berikutnya, ia berhasil menguasai dirinya kembali.
“Sinta datang!” gadis yang membawa makanan itu mengumumkan ke seluruh perkemahan. Sontak, seluruh aktivitas pun berhenti. Para gadis yang semula berada di dalam tenda langsung buru-buru keluar atau melongokkan kepala dari balik pintu masuk tenda, demi melihat Sinta.
Sinta berdiri dengan kikuk dan masih merasa takjub melihat perkemahan kecil itu. Namun, ia juga tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya karena bertemu kembali dengan teman-temannya.
Si-Gadis-Pembawa-Makanan cepat-cepat meletakkan kotak-kotaknya di dekat api unggun dan berjalan cepat untuk memeluk Sinta. Keempat gadis yang lain mengikuti di belakangnya dan melakukan hal yang sama. Mereka saling berpelukan selama beberapa detik sebelum Si-Gadis-Pembawa-Makanan (yang sekarang sedang tidak membawa makanan) melepaskan pelukannya, lalu meraup kedua pipi Sinta. Ia menolehkan wajah Sinta ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa bagian samping kepala temannya. Ia juga mengamati Sinta dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang teliti, memastikan bahwa temannya itu tidak mengalami cedera. Akhirnya, ia menyimpulkan, “Dia sudah pandai berteleportasi.”
Simpulan itu disambut oleh tepukan tangan dan sorakan yang riuh dari gadis-gadis yang lain. “Kukira kepalanya bakal bocor,” kata Si-Gadis-Bergaun-Hijau-Muda.
“Dia meninggalkanku di seberang bukit,” Sinta memprotes sambil menunjuk Si-Gadis-Bergaun-Hijau-Muda, yang dibalas dengan lirikan jahil oleh gadis itu.
“Sudah, sudah. Kamu tahu sendiri, kan, kalau Dika nggak bisa diandalkan?” kata gadis yang mengenakan gaun tidur berwarna ungu muda. Rambutnya panjang sepundak dan digelung ke belakang. “Yuk, kita mulai makan. Nanti keburu basi.”
Si-Gadis-Bergaun-Tidur-Ungu-Muda memimpin teman-temannya untuk duduk mengelilingi api unggun. Ia sendiri duduk paling dekat dengan kotak-kotak berisi bahan makanan. Pertama-tama, ia membuka kotak berisi daging sapi mentah yang telah dimarinasi dan ditusukkan ke tusukan sate berupa besi panjang, lalu ia mulai menata sate sapi itu di atas panggangan sederhana. Di sebelah kanannya, gadis yang mengenakan piyama kuning cerah dengan motif kotak-kotak membantu mengedarkan piring, gelas, dan alat makan kepada gadis yang lain. Di sebelah kirinya, gadis dengan gaun merah jambu mulai membagikan biskuit dan membantu menuangkan minuman coklat panas dari dalam teko ke masing-masing gelas temannya.
Dengan segera, mereka semua menikmati hidangan sederhana itu dengan lahap. Mereka makan dan minum sambil sesekali bergurau, tertawa, bertukar kabar, dan menceritakan kebodohan-kebodohan semasa Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sinta mengakui dirinya sewaktu SMA adalah seorang kutu buku, bahkan hingga saat ini. Bacaan favoritnya adalah novel. Baginya, tiada hari tanpa membaca novel di sekolah. Setiap jam istirahat atau ketika jam kosong, ia selalu terlihat menundukkan kepala menatap novelnya. Banyak sekali novel yang sudah ia baca, mulai dari novel berseri terjemahan seperti Harry Potter, The Lord of The Rings, The Golden Compass, Game of Thrones, hingga novel-novel English Classics seperti The Railway Children, Little Women, Jane Eyre dan Pride and Prejudice. Ia juga membaca novel-novel lama dalam negeri, seperti Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Robohnya Surau Kami dan Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Akhir-akhir ini, ia sedang gemar membaca novel-novel karya penulis kontemporer, seperti Andrea Hirata, Dee Lestari, Eka Kurniawan, Ahmad Fuadi, dan sebagainya.
“Kalian ingat nggak, sih, dulu kita jalan-jalan ke toko buku setiap minggu?” kenang Si-Gadis-Bergaun-Tidur-Ungu-Muda yang kemudian diketahui bernama Sofia.
“Iya. Gara-gara Sinta, kan?” Si-Gadis-Pembawa-Makanan, yang kemudian diketahui bernama Bela, mengedikkan dagunya ke arah Sinta.
Sinta tersenyum mengingat kegemarannya yang lain, yaitu membujuk teman-temannya untuk menemani dirinya ke toko buku setiap pulang sekolah pada hari Sabtu. Ya, mengunjungi toko buku merupakan kegiatan rutin mereka setiap minggu. Tapi, hal ini bukan berarti mereka membeli buku setiap minggu. Setiap kali ke toko buku, mereka tidak selalu membeli buku. Terkadang mereka hanya menumpang membaca beberapa buku atau sekadar melihat-lihat buku terbitan terbaru.
Sinta lebih senang membeli buku sendiri daripada meminjam buku di perpustakaan karena penjaga perpustakaan di sekolah mereka terkenal judes dan galak. Dalam usahanya agar dapat membeli buku dengan uang jajannya sendiri, ia rela membawa bekal makanan beserta botol minuman dari rumah dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak jajan di sekolah. Dari hobi membaca inilah, Sinta mengembangkan bakatnya dalam menulis cerita pendek. Cerita-cerita pendeknya sering kali dimuat di majalah sekolah, yakni Majalah Cendekia, yang diterbitkan setiap bulan.
“Terus, terus,” kata Gadis-Dengan-Gaun-Merah-Jambu, yang kemudian diketahui bernama Lintang, “Ingat, nggak, sih, waktu Dika pakai sepatu putih ke sekolah? Ternyata ketahuan Pak Sobirin, pembina kedisiplinan? Mana datangnya telat pula.” Ucapan ini langsung disambut oleh derai tawa dari kelima gadis lain.
Kali ini, giliran Si-Gadis-Bergaun-Hijau-Muda yang mereka bicarakan. Namanya Mutiara Andika, teman-temannya memanggilnya Dika, tetapi guru-guru lebih senang memanggilnya Andika. Dika adalah musuh bebuyutan pembina kedisiplinan semasa SMA, sebab ia termasuk murid yang paling badung dan paling sering melanggar aturan sekolah. Ia kerap datang terlambat ke sekolah, padahal bangunan rumahnya dengan bangunan sekolah hanya dipisahkan oleh tiga rumah saja.
Cerita yang dibicarakan oleh Gadis-Dengan-Gaun-Merah-Jambu adalah kejadian pada suatu pagi ketika Dika lagi-lagi datang terlambat ke sekolah dengan memakai sepatu berwarna putih, sedangkan peraturan sekolah mengatakan bahwa murid-murid diwajibkan memakai sepatu berwarna hitam. Ketika Dika sampai di gerbang sekolah, halaman sekolah tampak sepi karena memang jam pelajaran sudah hampir dimulai. Setelah memastikan bahwa tidak ada guru yang melihatnya, terutama Pak Sobirin Guru Pembina Kedisiplinan, ia berlari menuju ke kelasnya. Sesampainya di ruang kelas, dengan penuh percaya diri, Dika tertawa sambil mengumumkan ke seluruh kelas, “Hahaha, aku nggak ketahuan Pak Sobirin!”.
Tepat setelah ia mengucapkan kalimat itu, Pak Sobirin masuk ke kelas dan memanggil namanya dengan nada seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya, “Andika.” Pak Sobirin lantas menyita sepasang sepatu Dika dan baru mengizinkannya untuk mengambil kembali setelah jam pulang sekolah, sehingga gadis itu terpaksa tidak mengenakan sepatu hingga jam istirahat pertama tiba.
“Ha, itu lucu banget.”
“Habis itu, kan, kita ada ulangan harian Fisika. Bu Nikmah tanya, ‘Andika sepatunya ke mana?’. Si Dika jawab, ‘Disita Pak Sobirin, Bu’.” Mereka tertawa sampai perut mereka sakit.
“Iya. Pas jam istirahat pertama, aku langsung pulang ambil sepatu hitam.” Dika membela diri.
“Enak, ya, yang rumahnya dekat sekolah.”
“Gitu aja masih sering telat.”
“Goblok emang Dika.”
“Berisik, Anjing.”
“Gara-gara kelakuannya Dika, aku yang ditegur sama guru-guru,” timpal Si-Gadis-Bergaun-Tidur-Ungu-Muda, Sofia. “‘Kasih tau, tuh, teman kamu, Andika. Bilang jangan suka telat lagi, yang sopan kalau sama guru.’” Kata Sofia menirukan ucapan dari salah satu guru.
Guru-guru memang cukup sering menitipkan pesan kepada Sofia untuk mengingatkan teman-temannya, meskipun ia kemudian dicap sebagai anak yang bawel karena kerap mengingatkan teman-temannya yang bandel. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab Sofia adalah Ketua OSIS semasa SMA. Ia merupakan salah satu siswi yang paling sibuk di sekolah. Kegiatannya di luar jam belajar adalah rapat, rapat, dan rapat. Ia pernah rapat sampai malam di sekolah. Bahkan ketika hari libur, ia tetap datang ke sekolah untuk rapat. Ia juga kerap tidak bisa ikut kegiatan rutin bersama teman-teman dekatnya, yaitu mengunjungi toko buku, dengan alasan rapat pengurus OSIS atau rapat kepanitiaan untuk acara sekolah.
Selain rajin mengikuti rapat dan berorganisasi, Sofia juga rajin beribadah di masjid. Mungkin karena namanya diambil dari nama masjid di Turki, Aya Sofia, sehingga ia merasa memiliki ikatan batin dengan masjid. Ia memiliki kebiasaan salat tepat waktu dan termasuk dari beberapa siswa yang istikamah dalam menunaikan salat dhuha.
“Betul. Yang salah siapa, yang kena tegur siapa.”
“Tapi, senakal-nakalnya Dika, tetap Bela, sih, yang paling ekstrem,” kata Gadis-Bergaun-Kuning-Cerah, yang diketahui bernama Salsa. “Sampai hampir tawuran, lho.”
“Gara-gara dia, nih,” Si-Gadis-Pembawa-Makanan, yang bernama Bela, menuduh Gadis-Dengan-Gaun-Merah-Jambu yang duduk di sebelah kanannya dengan lirikan sinis. Lintang hanya tersenyum malu.
Peristiwa hampir tawuran yang mereka maksud adalah ketika Bela dan teman-teman klub basketnya memang benar-benar hampir tawuran dengan anak-anak dari SMA lain. Kejadian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan Lintang. Bagaimana bisa?
Jadi begini. Semasa SMA, Lintang adalah gadis yang sangat gemar pacaran. Hampir setiap tiga bulan, ia ganti pacar. Rekor pacarannya yang terlama adalah satu tahun tiga bulan. Sayangnya, Lintang juga gadis yang sangat cengeng. Setiap kali ia putus dengan pacarnya, ia selalu menangis sambil menceritakan kronologi ketika ia putus dengan pacarnya. Sebenarnya, teman-teman dekatnya sudah jenuh mendengarkan cerita dan tangisan Lintang setiap kali ia putus karena hal tersebut hampir selalu terjadi setiap tiga bulan. Namun, Bela adalah satu-satunya orang yang paling tidak tahan melihat temannya menangis. Maka, yang terjadi setelah Lintang selesai curhat sambil menangis adalah Bela akan menanyakan, “Sekarang dimana, tuh, cowok?”, kemudian menghampiri mantan pacar Lintang tersebut dan melabraknya. Tidak jarang pula Bela dan mantan pacar Lintang terlibat pertengkaran sengit yang menyebabkan mereka dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling (BK). Oleh sebab itu, Bela dan Lintang menjadi gadis yang paling banyak ditakuti sekaligus dibenci oleh anak laki-laki di sekolah mereka.
Berkali-kali putus dengan pacar tidak menyebabkan Lintang kapok untuk menjalin hubungan baru. Jadi, setelah tidak ada lagi siswa laki-laki di sekolahnya yang mau pacaran dengannya (karena takut dilabrak Bela), Lintang memutuskan untuk berpacaran dengan siswa dari sekolah lain. Seperti yang sudah bisa kita tebak, Lintang dan pacarnya kembali putus disertai dengan tangisan dan curhatannya yang memuakkan. Bela, seperti yang sudah bisa kita duga, tidak akan tinggal diam melihat temannya menangis. Maka, pada hari itu, sepulang sekolah, Bela melabrak mantan pacar Lintang ke sekolahnya. Yang mengejutkan adalah ketika esok harinya mantan pacar Lintang itu ternyata membawa teman-teman SMA-nya ke sekolah mereka dan membuat perhitungan dengan Bela. Bela yang tersulut emosi lalu mengajak teman-teman klub basketnya untuk meladeni tantangan dari mantan pacar Lintang. Pertengkaran di antara kedua kubu pun tak terelakkan. Mereka sempat terlibat adu mulut di jalan depan sekolah. Untungnya, pertengkaran tersebut dapat dilerai oleh petugas keamanan sekolah. Setelah kejadian itu, klub basket mendapat hukuman berupa larangan untuk menggunakan lapangan basket sekolah selama dua minggu dan Bela dimarahi habis-habisan oleh ayahnya karena perbuatannya tersebut. Ayah Bela adalah seorang tentara. Mungkin karena itulah, ketiga anaknya mendapatkan nama-nama yang unik. Kedua abang Bela bernama Jaya Indonesia dan Abdi Negara, dan Bela sendiri memiliki nama lengkap Bela Negari.
“Sialan, tuh, cowok,” umpat Bela mengenang kejadian itu.
“Fun fact, Bela waktu itu udah bawa batu di dalam tasnya,” kata Lintang.
“Anjing. Beneran niat mau tawuran,” Dika tampak kaget sekaligus takjub.
“Udah pasti itu ngajak tawuran,” Bela membela diri. “Aku yakin tas mereka juga pasti isinya batu.”
“Astaga, Bela. Nggak takut dimarahi Mas Jaya sama Mas Abdi apa?” Sinta terlihat khawatir. Selain dimarahi ayahnya, kenakalan Bela juga rentan mendapat omelan dari kedua abangnya.
“Dan kembali lagi, aku yang kena tegur guru-guru,” kata Sofia, yang disambut tawa oleh teman-temannya. “Yang satu tukang bolos, satunya lagi tukang berantem. Capek banget. Kenapa, sih, kalian nggak jadi kayak Salsa aja?”
“Jadi gamer wibu?”
“Enak aja!”
Kini mereka beralih kepada Gadis-Bergaun-Kuning-Cerah yang dipanggil Salsa. Nama lengkapnya Mutiara Salsabila. Dari mereka berenam, Salsa adalah gadis yang paling pintar dan berprestasi di sekolah. Semasa SMA, ia selalu mendapat peringkat pertama di angkatannya, untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Tidak hanya itu, ia juga telah menjuarai berbagai lomba, diantaranya adalah olimpiade fisika dan lomba debat bahasa inggris. Ia juga diberi amanah untuk menjadi Ketua English Club sewaktu SMA.
Meskipun berprestasi dan cerdas luar biasa, Salsa justru tidak pernah terlihat belajar. Ketika jam pelajaran berlangsung, ia lebih sering tepergok bermain games dengan ponselnya atau menyelundupkan jajan dari kantin (yang ini dilakukan bersama Dika) daripada mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Namun demikian, guru-guru tidak pernah menegur atau memarahi Salsa karena ia selalu mampu menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dika adalah orang yang paling iri dengan Salsa dalam hal ini, “Kok, bisa, sih, kamu nggak pernah belajar, kerjanya main mulu, tapi pintar banget? Sedangkan aku, belajar sampai mampus pun nggak akan pernah bisa pintar kaya kamu.”
“Haha, Dika memang goblok,” Bela menertawakan Dika. Dika mengarahkan tusukan sate ke muka Bela.
Setelah seluruh hidangan tandas, mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbaring bersama di atas rumput sambil bermain tebak rasi bintang. Malam itu, langit tampak sangat bersih sehingga bulan dan bintang dapat terlihat dengan jelas. Karena lelah, beberapa dari mereka mulai jatuh tertidur sebelum sempat masuk ke dalam tenda, tak terkecuali Sinta. Ia berulang kali berusaha menahan kantuknya, tetapi berulang kali juga ia gagal. Jangan tidur, jangan sampai tertidur, ia membatin dalam hati. Sayangnya, ia tetap berhasil dikalahkan oleh rasa kantuk. Sebelum Sinta benar-benar masuk ke alam mimpi, ia sempat merasa ada seseorang yang mengecup dahinya.
Entah berapa lama ia terlelap pada malam itu, sebab ketika Sinta membuka matanya, ia tidak lagi merasakan desiran angin padang rumput. Sinta beralih ke posisi duduk dengan gerakan tiba-tiba, rasa panik membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa ia tertidur semalaman di lantai kamarnya. Teman-temannya sudah tidak ada, tentu saja.
Sinta duduk sembari memeluk kedua lututnya. Perasaan sepi dan sendiri membuatnya sangat sedih hingga ia menangis. Ia membenamkan wajah ke kedua lututnya, lalu mulai melepaskan tangisannya. Ini tidak adil, padahal semalam kami baru saja bersenang-senang, pikirnya. Bahkan mereka tidak mau repot-repot berpamitan kepadaku.
Sepanjang hari itu, Sinta terus menangis sampai matanya merah dan sembab. Ia berulang kali melihat ke arah jam, juga ke luar jendela, menunggu hari berubah menjadi gelap. Ia baru berhenti menangis ketika matahari mulai turun di sebelah barat, ditandai dengan langit yang berwarna jingga.
Setelah langit benar-benar gelap dan bintang-bintang mulai menunjukkan dirinya, Sinta bergegas bangkit, menutup gorden kamarnya, mematikan semua lampu, dan mulai menyalakan sebatang lilin. Ia duduk di ujung tempat tidurnya dengan sebatang lilin yang menyala di tangannya, matanya terpejam. Ia berdoa dalam hati. Beberapa detik kemudian, ia merasakan hawa di dalam kamarnya menjadi lebih sejuk dan sensasi hangat dari nyala api di lilinnya menghilang. Sinta membuka matanya perlahan-lahan, dengan sedikit rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Api di lilinnya sudah mati, meninggalkan kepulan asap tipis dari ujungnya yang terbakar.
Kini, di hadapannya, berdiri lima orang gadis yang semalam berkemah bersamanya di tengah padang rumput. Mereka semua tersenyum kepada Sinta. Wajah mereka tampak bersih, putih, dan memancarkan cahaya di tengah kegelapan kamar Sinta. Mereka berjalan menghampiri dirinya. Sofia dan Salsa ikut duduk di samping kanan dan kirinya, memeluknya. Sinta mulai menangis lagi.
“Sinta,” panggil Bela. Kedua tangannya memegang tangan Sinta yang masih menggenggam sebatang lilin. “Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?”
“Nggak adil,” bisik Sinta di tengah-tengah isak tangisnya. “Kenapa kalian semua pergi tanpa mengajakku? Kalian marah padaku? Apa aku sudah tidak kalian anggap teman lagi?” Nada bicaranya meninggi ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu.
“Bukan begitu.”
“Tapi kenapa hanya aku yang masih hidup? Kenapa aku tidak ikut mati saja bersama kalian pada hari itu? Kenapa?”
“Sin, tolong jangan bunuh diri. Jangan melakukan hal-hal bodoh lagi,” ucap Sofia lembut.
“Kalau kamu bunuh diri, kamu nggak akan bisa ketemu dengan kita lagi.” Kata-kata Dika sedikit menusuk, tapi dia memang benar. Akibat kata-katanya ini, Sinta menangis semakin keras.
Kelima gadis itu berusaha menenangkan Sinta, yang masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kelima sahabatnya telah meninggal pada tahun lalu dalam sebuah kecelakaan bus ketika sekolah mereka mengadakan kegiatan karya wisata. Dalam perjalanan menuju ke lokasi karya wisata, bus mereka melewati tanjakan yang cukup terjal, menyebabkan bus tergelincir dan jatuh ke dalam jurang di samping jalan. Kecelakaan itu menewaskan dua puluh orang murid termasuk kelima gadis itu, dua orang guru, dan supir bus. Sisanya mengalami luka-luka. Sinta sendiri mengalami koma selama satu minggu dan patah tulang di bagian panggul. Butuh waktu hampir enam bulan untuk dapat sembuh sepenuhnya.
Peristiwa kecelakaan itu tidak hanya menyebabkan luka pada fisik, tetapi juga pada batinnya. Sinta jadi benci naik bus, benci kegiatan karya wisata, benci jalan di mana kecelakaan itu terjadi, bahkan ia membenci tanggal ketika peristiwa mengenaskan itu terjadi. Namun, yang paling ia benci dari semua itu adalah kehilangan lima sahabatnya. Di mana ia bisa menemukan lima gadis yang dapat menggantikan lima sahabatnya itu? Tidak. Bagi Sinta, mereka tidak akan pernah bisa tergantikan.
Hingga pada suatu malam, ia menemukan cara untuk memanggil arwah kelima sahabatnya. Bahkan, ia mengembangkan kemampuannya untuk dapat berteleportasi ke tempat di mana kelima sahabatnya berada, seperti yang terjadi pada malam kemarin.
“Apakah padang rumput yang kemarin itu surga?” tanya Sinta setelah isak tangisnya mereda.
“Sebagian kecil,” jawab Sofia.
“Maukah kalian mengajakku ke sana lagi?”
“Bukan kami yang mengajakmu. Kamu sendiri yang datang ke tempat kami,” kata Bela. Ada sedikit rasa bangga di dalam suaranya.
Sinta terlihat heran. “Kalau begitu, kenapa Dika bisa menjemputku di seberang bukit?”
“Aku sedang mengumpulkan kayu bakar waktu itu. Lalu, aku melihatmu muncul,” jawab Dika sambil tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus, bukan senyuman jahil.
“Kalau begitu,” kata Sinta. Perasaannya sudah jauh lebih tenang sekarang. “Maukah kalian yang gantian menjemputku ke surga?”
Keempat gadis itu menatap Sinta dengan pandangan kaget, kecuali Sofia yang justru tersenyum. “Pegang tanganku.”
Sofia memegang tangan kanan Sinta dan Lintang menggandeng tangan kirinya. Bela menggenggam tangan Lintang yang bebas, Dika menggandeng Sofia, dan Salsa menggandeng Dika. Sesaat setelah mereka semua saling bergandengan tangan, cahaya bulan yang menembus jendela kamar Sinta terlihat jauh lebih terang daripada biasanya. Bersama-sama, mereka melangkah ke arah datangnya cahaya bulan itu dan menjemput petualangan baru yang jauh lebih menyenangkan, karena kini akhirnya, mereka bisa bersama lagi.
Picture source: https://www.sciencenewsforstudents.org/article/scientists-say-prairie



Comments
Post a Comment