Cerpen: Kisah Sang Putri dan Si Budak
“Kamu tahu
tidak, zaman dulu, ada putri kerajaan yang jatuh cinta kepada budaknya?” Andra
membuka pembicaraan dengan topik yang terdengar konyol, sambil menikmati es
krim rasa vanilla kesukaannya. Tangannya
bergerak untuk menyendok es krim, namun matanya tidak lepas dari wajah lawan
bicaranya.
“Tidak
mungkin,” kata Vivian cepat. Gadis itu agaknya sudah bisa menebak kemana arah
pembicaraan ini. Tetapi, laki-laki yang duduk di hadapannya itu tidak peduli
terhadap reaksinya. Ia melanjutkan, “Jadi, kisah ini terjadi pada saat Bumi Nusantara
masih diduduki oleh kerajaan. Waktu itu, budak diperlakukan lebih buruk
daripada hewan...”
“Wait,” potong Vivian. “Lebih buruk
daripada hewan maksudnya?” Meskipun dirinya sedikit bosan, ia tetap berusaha
untuk menghargai Si Pencerita.
“Ya,
misalnya, kuda saja dirawat dan diberi makan. Lalu dipakai untuk transportasi,
perang, dan sebagainya. Tapi kalau budak hanya disuruh kerja saja. Mereka tidak
diberi tempat tinggal yang layak di istana, bahkan mungkin disiksa, kadang
tidak diberi makan.”
“Okay, lanjutkan.”
Andra meletakkan
wadah es krim yang sudah kosong di atas meja di sampingnya. “Suatu hari, ketika
Sang Putri sedang jalan-jalan mengawasi keadaan di istana, ia melihat budak
ini. Awalnya, Putri merasa kasihan. Namun kemudian, ia menyadari kalau dirinya
menyukai budak itu.”
“Wow, selera
Sang Putri rendah sekali, ya?”
“Karena
budak ini baik...”
“Dia jatuh
cinta begitu saja, kan?”
“Ceritanya
belum selesai,” kata Andra sabar. “Intinya Sang Putri menyukai Si Budak.
Ternyata, budak itu juga menaruh hati pada Sang Putri. Nah, terjalinlah
hubungan cinta terlarang antara Putri Raja dengan budaknya.” Ia berhenti
sejenak, “Sayangnya, hubungan mereka diketahui
oleh Raja. Sang Raja tentunya tidak mau kena malu karena anaknya punya hubungan
istimewa dengan seorang budak, apalagi kalau sampai diketahui rakyat kerajaan.
Akhirnya, Raja mengirim Sang Putri ke kerajaan lain untuk suatu urusan. Lalu ketika
Sang Putri tidak sedang di istana, ia membuat rencana supaya budak tersebut
dihukum mati.”
Mata Vivian melebar
karena terkejut dengan akhir kisahnya. “Astaga, kasihan sekali.”
“Yap. Budak itu
difitnah telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, sehingga ia harus
menerima hukuman mati.”
“Apa hukuman
matinya?” tanya Vivian penasaran. Sampai disini, ia mulai tertarik dengan kisah
cinta tragis ini.
“Bertarung.
Dengan. Harimau. Jawa,” kata Andra perlahan, sengaja untuk memberikan efek
dramatis. Vivian memekik pelan. “Bagaimana dengan Sang Putri? Apa dia kembali
ke istana?”
“Ya, dia
pulang ke istana tepat ketika hukuman mati itu sedang berlangsung.”
“Ya ampun. Jadi,
Putri ini melihat langsung ‘kekasih’-nya itu dicabik harimau?” Vivian membuat
isyarat tanda kutip dengan jarinya.
“Sayangnya,
iya,” jawab Andra dengan tampang sedih. “Sang Putri justru menyelamatkannya. Dia
memanah si harimau sampai mati. Tapi, budak tersebut juga tidak bisa diselamatkan.”
Vivian menutup
mulutnya, “Terus? Apa Sang Putri jadi gila karena kehilangan cintanya?”
“Um, bisa
dibilang begitu,” Andra berpikir sebentar. Ia cepat-cepat menambahkan, “Gila dalam
tanda kutip.”
“Oh, dongeng
ini masih ada lanjutannya?”
“Tentu saja!”
ucap Andra. Ia jadi semakin semangat menceritakan kisah cinta tragis tersebut. “Sang
Putri merasa sangat sedih sejak kejadian itu. Ia mengurung diri di kamarnya,
tidak mau makan, tidak mau bicara, kerjanya hanya menangis sampai matanya bengkak.
Hingga suatu hari, Penasihat Raja merasa kasihan melihat keadaan Sang Putri. Maka,
ia meminjamkan jam saku miliknya kepada Sang Putri.”
“Jam saku,
untuk apa?”
Andra
mengangguk. “Jam saku ini punya kemampuan mengembalikan waktu ke masa lampau.” Vivian
tersenyum meledek. Ia merasa cerita ini mulai tidak masuk akal.
“Kamu paham,
kan, Putri ini pastinya ingin hidup sejahtera selamanya bersama orang yang ia
cintai? Nah, Sang Putri menggunakan jam saku itu untuk kembali ke masa sebelum
ia diutus oleh Raja untuk pergi ke Kerajaan lain. Ia diam-diam mengawasi
ayahnya sendiri dan berencana membunuhnya.”
“Anak
durhaka,” kata Vivian spontan. “Dia terlalu dibutakan oleh cinta.”
“Cinta
membuat orang jadi tidak rasional, bukan?” balas Andra. “Akhirnya, Sang Putri
berhasil membunuh Raja dengan memberinya racun. Setelah itu, ia kabur ke sebuah
desa terpencil di kaki gunung bersama dengan budak tercintanya.”
Mereka berdua
terdiam.
“Keduanya
hidup bahagia di desa itu selamanya,” tambah Vivian sambil tersenyum.
“Kalimat
klise di akhir setiap dongeng.”
“Tapi,” kata
Vivian. “Yang mau aku tanyakan adalah, apakah Sang Putri merasa lebih baik
setelah ia melakukan itu? Maksudku, memangnya dia tidak merasa berdosa sudah
membunuh ayahnya? Atau apakah dia tidak menyesal sudah meninggalkan kehidupan
bangsawannya yang serba enak di dalam istana?”
“Tidak,”
jawab Andra yakin. “Karena ia sudah bertekad untuk hidup bersama dengan Si
Budak itu. Seperti yang aku katakan tadi, cinta memang membuat orang jadi tidak
rasional.”
“Kalau
begitu, cerita ini juga tidak rasional.”
“Menurutmu
begitu?”
“Mana ada
jam saku yang punya teknologi membalikkan waktu?”
“Ini kan cuma
cerita...”
“Nah!”
Vivian berseru dengan nada penuh kemenangan. “Bilang saja cerita tadi hanya
karanganmu. Iya, kan?”
Andra menatap
tajam Vivian. Ia bisa melihat pantulan wajahnya di dalam mata gadis itu.
“Aku tanya
lagi. Kalau memang benar cerita ini nyata, coba beritahu aku kapan tepatnya
peristiwa itu terjadi, dan apa nama kerajaannya?”
“Wah, aku
lupa.”
“Wah, tidak
boleh begitu, dong.”
“Tapi, aku
memang pernah baca di buku...”
“Di buku
apa?” tanya Vivian lagi. Ia senang melihat raut kepanikan di wajah Andra. “Apa
judul bukunya? Siapa pengarangnya?”
“Um, buku
sejarah,” kata Andra ragu-ragu. “Ya! Buku sejarah!”
Vivian
mencibir. “Yakin? Sejarah apa?”
“Sejarah
Nusantara, lah.”
“Bukan
sejarah Eropa?”
“Kenapa,
sih, kamu tidak pernah percaya padaku?”
“Kamu
mengarang cerita tadi, kan?” Vivian masih membujuk lelaki itu untuk mengakui
bahwa kisah yang ia ceritakan hanyalah bualan belaka. “Memangnya kamu pernah
tahu, ada orang yang bisa kembali ke masa lalu?”
“Pernah!”
seru Andra. Kali ini, ia benar-benar yakin. “Aku pernah dengar cerita, katanya,
presiden Amerika Serikat bisa melakukan perjalanan waktu. Itu berarti dia bisa
kembali ke masa lalu.”
“Itu namanya
hoax, Bodoh.”
Andra
tertawa. “Um, omong-omong, kalau manusia benar-benar bisa melakukan perjalanan
waktu, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya tiba-tiba.
Vivian
mengernyitkan dahi. “Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Aku cuma
ingin tahu.”
Gadis cantik
itu menolehkan kepalanya ke arah jendela. Rambut hitam sebahunya nampak
berkilau ditimpa cahaya matahari. “Aku tidak mau melakukannya.”
“Apa?”
Vivian
kembali menatap Andra, memperhatikan setiap inci kulit wajahnya. “Kalaupun aku
bisa melakukan perjalanan waktu, aku tidak mau melakukannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku
senang dengan hidupku yang sekarang.”
“Kamu senang
melakukan pekerjaan ini?”
“Menjadi
psikiater adalah cita-citaku sejak kecil,” ucap Vivian bangga. “Kalau kamu? Apa
yang akan kamu lakukan seandainya bisa melakukan perjalanan waktu?”
“Aku ingin
mengulang setiap pertemuanku denganmu.”
Mendadak, terdengar
suara pintu diketuk dari luar, diikuti dengan suara berat yang mengatakan, “Permisi,
Dok.” Lelaki berwajah gahar dengan seragam lengkap itu mengangguk. Vivian sudah
paham, satpam itu menanyakan apakah sesi terapinya sudah selesai.
“Aku benci
orang itu,” kata Andra dengan ekspresi datar.
“Karena itu
tandanya pertemuan kita sudah selesai?”
Andra menunduk
memandangi kakinya. Ia berharap sesi terapi ini akan berlangsung lebih lama.
“Hei, kita
bisa bertemu lagi,” Vivian tersenyum, ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah
pasiennya. “Tapi, aku harap, tidak di sini.”
Ahli
kejiwaan itu kemudian berjalan ke arah pintu, meninggalkan Andra yang masih
duduk di pinggir ranjangnya. Sekarang, ekspresi mukanya berubah jadi sedih, tatapannya
kosong. Tidak seperti beberapa menit lalu, ketika ia menceritakan kisah Sang
Putri dan Si Budak. Detik berikutnya, ia tersenyum, menyadari bahwa ia sudah
jauh lebih baik dibandingkan sejak ia datang pertama kali ke Rumah Sakit Jiwa itu.
Andra merasa dirinya seperti Si Budak, sedangkan Dokter Vivian adalah Sang
Putri. Namun, kali ini, Sang Putri tidak perlu mengembalikan waktu.


Comments
Post a Comment