Ketika Adekmu Lebih Bijak
Tadi malem, aku lagi ngerjain soal TKD (Tes Kemampuan Dasar)
yang bagian TKP atau Tes Karakteristik Pribadi. Buat yang gak tau, soal TKD itu
ada 3 bagian dan semuanya pilihan ganda.
- 1. TIU (Tes Intelegensia Umum). Ada soal sinonim antonim,
bacaan, matematika dasar, sama logika. Logika disini tuh soalnya berupa
premis-premis dan kita disuruh nyari kesimpulannya apa. Persis kayak logika
matematika gitu, cuma yang ini lebih gampang.
- 2. TWK (Tes Wawasan Kebangsaan). Semua soal-soalnya
tentang sejarah Indonesia sama undang-undang. Jadi kalo lupa materi sejarah
waktu sekolah, baca lagi deh. Itu berguna banget buat menjawab soal TWK.
- 3. TKP (Tes Karakteristik Pribadi). Isinya soal-soal
yang berkaitan sikap dan etika gitu. Gak usah belajar juga gak apa-apa. Tiap huruf
yang dipilih juga ada poinnya antara 1-5. Jawaban yang paling baik ya pasti
poinnya 5.
Jadi, ketika aku sudah selesai mengerjakan soal TKP dengan
segenap jiwa raga, aku liat kunci jawabannya buat nyocokin jawabanku. Sekalian buat
ngitung poinku berapa. Nahh, ketika aku lagi nyocokin jawaban, aku
terheran-heran ternyata ada beberapa jawabanku yang nilainya kurang dari 5. Bahkan
ada juga yang cuma 1 :(( Padahal menurutku itu udah jawaban yang paling
logis.
Karena merasa gak terima dengan kunci jawabannya, akhirnya
aku protes. Wkwkwk. Dan karena aku
ngerjainnya di sebelah adekku, dia lah yang mau tidak mau harus mendengarkan
ocehanku ini. Percakapan sebenarnya dalam bahasa jawa logat Pekalongan ya.
“Kok jawabannya A? Aneh. Nih ya dek, ‘Anda mendapatkan
undangan dari pejabat untuk menghadiri jamuan makan malam. Kebetulan hidangan
yang disiapkan tidak seenak yang anda pikirkan. Maka hal yang anda lakukan
adalah…?’ Masa ‘tetap memakan hidangan tersebut’?”
“Ya bener. Menghargai itu maksutnya.”
“Tapi hidangannya kan gak enak. Masa gak enak tetep dimakan?”
“Gini ya. Mbak Winda udah enak-enak dikasih makan, ya
harusnya menghargai lah. Walaupun gak enak. Masa makanannya udah terhidang, Mbak
Winda malah minta makanan lain. ‘Mas, ada makanan yang lebih enak dari ini,
gak?’ Ya gak sopan namanya.”
Di soal itu, aku milih jawaban ‘menanyakan pada pelayan jika
mungkin terdapat hidangan lain’. Ini poinnya cuman 1. Mungkin alesannya bener karena
gak sopan itu ya, kayak kata adekku. Harusnya kia menghargai makanan yang udah
disajikan untuk kita, apalagi yang mengundang tuh pejabat. Masa kita udah
dikasih makanan, malah nyari yang lain. Kan keliatan banget kalo gak suka sama
makanannya, gak menghargai juga.
Sedangkan jawaban yang poinnya paling tinggi ‘tetap memakan
hidangan tersebut’, which is menurutku gak logis banget. Ya kayak yang aku
perdebatkan itu. Masa kita gak doyan makanannya, mau tetep dimakan. Jadi biar
gak laper, cari makanan lain aja yang lebih enak. Wkwk.
Trus aku tetep gak setuju, “Nih ya, jawaban yang poinnya 4
masa ‘mencari segelas air saja’?”
“Ya bener lah. Daripada makanannya gak enak, trus gak mau
dimakan, mending pesen minum. Kan kalo ditanyain ‘kenapa kok gak dimakan?’,
jawabnya ‘oh gak, saya udah kenyang. Saya pesen air minum aja.’”
“Lha kalo aku diem aja gak kumakan, gimana?”
“Nah itu lebih keliatan kalo Mbak Winda gak suka sama
makanannya. Mending pesen minum lah, setidaknya, daripada diem aja padahal udah
disediakan makan.”
Oke, aku nyinyir gara-gara jawaban di kunci gak sesuai
ekspektasiku. *LOL*
Di soal yang lain, aku protes lagi. “Trus ini ya, masa ‘apa
yang anda lakukan untuk mengatur mood anda?’, jawabannya ‘sabar’. Berarti kalo
kita lagi gak mood, harusnya diem aja
gitu? Aneh lah. Masa sabar, istighfar, sabar…”
“Itu maksutnya sabar nunggu sampe mood nya balik (bagus) lagi.”
“Dihh. Gak ngapa-ngapain? Sabar aja? Jawaban yang lainnya ‘memanjakan
diri’”
“Ya emang sih, memanjakan diri bisa memperbaiki mood.”
Beralih ke soal lain.
“Ini juga nih, aneh. Masa ya,’anda melakukan kesalahan di
dalam suatu tim, pimpinan tim menegur anda didepan umum, maka anda akan…?’
Jawabannya apa coba? ‘Membiarkan hingga keadaaan tenang kembali’. Ya, malu lah.”
“Ya bener, lah.”
“Ya harusnya ‘atasannya diingatkan kalau perbuatannya tidak
pantas.’”
“Kalo dimarahin harusnya didengerin dulu. Kalo pimpinannya
udah reda, baru Mbak Winda menjelaskan ke pimpinannya salahnya apa. Minta maaf
juga udah melakukan kesalahan.”
“Tapi ini di depan umum lho, dek.”
“Lho iya. Harusnya gitu. Ya masa Mbak Winda dimarahi
pimpinannya, malah langsung membantah. Gak bener juga nih Mbak Winda.”
“Lha tapi…”
“Bentar, dengerin. ‘Membiarkan hingga keadaaan tenang
kembali’ tuh maksutnya didengerin dulu sampe pimpinannya selesai marah. Kalo
udah mulai tenang, baru Mbak Winda membela diri, ‘mengingatkan pimpinan kalau
perbuatannya tidak pantas.’”
Begitu juga dengan soal-soal lain yang jawabanku gak sesuai
dengan kunci jawaban, wkwk. Tapi akhirnya, aku tetep menghitung nilaiku sesuai
dengan jawaban di kunci kok :))) Sebenernya masih ada beberapa jawaban yang aku perdebatkan
sama adekku. Seru banget lah pokoke. Tapi capek ngetiknya, hehe.
Intinya, pelajaran yang dapat dipetik dari sikap adekku ini
adalah: terkadang orang yang lebih muda daripada kita bisa aja bersikap lebih
bijak dan lebih dewasa (iya, aku emang kadang kayak anak kecil). Karena kedewasaan bukan dilihat dari umur, tapi dari
pola pikir :) *yeaaa*
Semangat TKDnya buat temen-temen yang mau TKD! Semoga diberi kelancaran dalam mengerjakan dan skornya tinggi. Aamiin. Dan jangan protes apapun jawabannya, terutama bagian TKP. Wkwkwk.



Comments
Post a Comment